Seblak merupakan salah satu makanan yang sudah menjadi primadona yang banyak digemari orang banyak orang, seblak tidak hanya disukai dikalangan anak remaja saja namun di kalangan anak-anak hingga orang tua juga menyukai jenis makanan satu ini. Tapi apakah kalian ketahui bahwa mengkonsumsi seblak harus diwaspadai?

Pada beberapa waktu lalu sempat terdengar disemua berita yang telah menggemparkan mengenai seorang anak yang mengalami sakit usus buntu akibat terlalu sering mengkonsumsi seblak ini. Yang menjadi salah satu penyebab terjadinya yaitu kerupuk basah yang menjadi salah satu bahan utama seblak yang tidak bisa dicerna oleh tubuh sehingga terjadi penumpukan pada usus. Namun berita tersebut sangat ramai dibicarakan, tapi itu semua tidaklah benar. Lantas apakah benar bahwa mengkonsumsi seblak itu berbahaya?

Persoalan berbahaya mengkonsumsi seblak menurut para ahli kesehatan menjelaskan bahwa kerupuk yang dimasak basah seperti seblak ternyata masih bisa dicerna oleh tubuh, jadi tidak mungkin benar jika mengkonsumsi seblak dapat menyebabkan usus buntu. Sebagai catatan penting, kerupuk basah yang menjadi bahan utama seblak ini tidak dapat menyebabkan usus buntu, kecuali dalam pembuatan seblak ini dicampur dengan bahan uang memang tidak bisa dicerna oleh usus seperti biji-biji dari buah atau bahan yang memiliki kandungan metal.

Jika dilihat dari bahan-bahan untuk pembuatan seblak seperti cabai dan sambal yang jumlahnya sangat banyak apalagi ditambahkan garam dan penyedap rasa atau bumbu lainnya yang melebihi rekomdasi itu justru akan membahayakan kesehatan. Jika dikonsumsi secara berlebihan akan menimbulkan diare dalam jangka yang panjang atau juga dapat memicu penyakit jantung.

Belum lagi kandungan capsaicin atau bahan aktif yang membuat rasa cabai semakin pedas yang bisa menyebabkan lapisan pada organ pencernaan, usus dan lambung mengalami peradangan atau inflamasi. Jika dikonsumsi dalam jumlah yang banyak maka akan cenderung merusak organ pencernaan. Bahaya pada capsaicin juga bisa menyebabkan terjadinya iritasi pada usus kecil yang dapat mempercepat pada proses pencernaan yang mengakibatkan seharusnya adanya penyerapan air pada usus besar dan hal ini tidak terjadi sehingga air tetap keluar bersamaan dengan sisa fases atau produk pencernaan.